Dari Oker ke Codeisme: Dua Revolusi Informasi dalam Sejarah Seni

Oleh Stephens S. Thé, Ph.D.

Pendiri REXES & Penulis Principia Intelligentiæ

Sapuan Kuas dan Matriks

Bayangkan sebuah kuas berujung halus dicelupkan ke dalam cat akrilik hitam yang pekat, lalu bergerak perlahan menggambar kotak-kotak geometris yang presisi di atas kanvas putih yang masih kosong. Tidak ada printer digital ataupun stempel mekanis. Di balik kuas itu berdiri seorang seniman, Doddy “Mr D” Hernanto, yang sedang memainkan permainan berisiko tinggi melawan sebuah mesin. Sedikit saja tangannya bergetar, atau catnya melebar beberapa fraksi milimeter, maka matriks digital yang sedang dibangunnya akan rusak. Kode tersebut tidak lagi dapat dipindai, dan seluruh karya seni kehilangan fungsi digitalnya.

Gerakan seni ini disebut Codeisme. Ia merupakan perpaduan kontemporer yang mendalam antara ekspresi manusia dan presisi matematika—sebuah pertemuan antara permukaan yang sepenuhnya manusiawi dengan inti fungsional yang tidak dapat direduksi.

Selama beberapa dekade, sistem pendidikan dan kebijakan inovasi di seluruh dunia menjadikan STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics) sebagai fondasi utama kemajuan, sementara seni sering diposisikan sebagai pelengkap. STEM mengajarkan bagaimana manusia mengolah materi dan informasi, sedangkan seni mengajarkan mengapa bentuk, keindahan, dan makna begitu penting bagi kehidupan manusia. Codeisme memperlihatkan bahwa STEAM bukan sekadar penambahan unsur estetika ke dalam rekayasa teknik, melainkan pengakuan bahwa peradaban manusia selalu berkembang melalui evolusi yang berjalan bersamaan antara fungsi (utility) dan makna (meaning).

Untuk memahami ke mana arah pertemuan ini berkembang, kita perlu menoleh ke belakang, menelusuri dua revolusi besar dalam sejarah manusia menyimpan dan menyampaikan makna: revolusi gambar dan revolusi kode.

Revolusi Pertama: Seni sebagai Memori Eksternal Pertama Manusia

Dorongan untuk memadatkan pengalaman hidup manusia ke dalam ruang visual yang kecil tidak bermula di studio seni modern. Ikutilah benang merah sejarah sejauh 73.000 tahun ke lorong-lorong gelap Gua Blombos di Afrika Selatan. Di sana, seorang manusia purba menggoreskan pola silang menggunakan oker pada sebuah batu. Hingga hari ini, gambar itu diakui sebagai gambar abstrak tertua yang pernah ditemukan.

Lebih dari dua puluh ribu tahun kemudian, di belahan dunia lain, tepatnya di Sulawesi Selatan, naluri yang sama berkembang lebih jauh. Di Leang Karampuang, kawasan karst Maros–Pangkep, manusia purba melukiskan sosok manusia yang berinteraksi dengan seekor babi hutan. Lukisan yang berusia sedikitnya 51.200 tahun itu merupakan bukti tertua seni naratif yang diketahui manusia—sebuah gambar yang tidak hanya merekam bentuk, tetapi juga menceritakan sebuah kisah.

Gambar-gambar kuno tersebut bukan sekadar hiasan dinding. Ia dapat dipandang sebagai teknologi informasi pertama yang diciptakan manusia—media memori eksternal paling awal. Melalui gambar, manusia mampu menyimpan pengetahuan, niat, dan cerita, melampaui keterbatasan ingatan maupun bahasa lisan.

Revolusi Kedua: Lahirnya Sebuah Kode

Revolusi berikutnya datang jauh kemudian, berbicara bukan lagi melalui oker dan dinding batu, melainkan melalui bahasa matematika dan rangkaian elektronika.

Pada tahun 1948, insinyur Claude Shannon di Bell Labs menerbitkan makalah monumental A Mathematical Theory of Communication. Melalui karya tersebut, Shannon meletakkan dasar teori informasi modern dengan menunjukkan bahwa teks, suara, maupun gambar dapat diukur, dikompresi, dan ditransmisikan secara andal melalui saluran komunikasi yang penuh gangguan (noisy communication channel). Tanpa landasan teorinya, dunia digital seperti yang kita kenal sekarang—telepon pintar, internet, maupun kompresi data—tidak mungkin terwujud.

Hampir setengah abad kemudian, prinsip matematika itu memperoleh bentuk visual yang sangat sederhana namun luar biasa kuat. Pada tahun 1994, insinyur Jepang Masahiro Hara menciptakan kode QR untuk melacak komponen otomotif. Terinspirasi oleh pola hitam-putih papan permainan Go, ia merancang jaringan dua dimensi yang mampu menyimpan informasi dalam kepadatan tinggi sekaligus tetap mudah dipindai dari berbagai sudut. Dengan demikian, kode QR menjadi pewaris langsung teori Shannon: sebuah cara memadatkan makna menjadi pola visual yang sangat efisien.

Selama puluhan tahun, kedua warisan besar ini berkembang pada jalannya masing-masing. Gambar naratif hidup di museum dan galeri seni, sedangkan kode digital hadir di layar komputer, kemasan produk, dan sistem informasi.

Sintesis: Kernel dan Permukaan

Codeisme karya Mr. Doddy berdiri tepat di titik pertemuan dua revolusi sejarah tersebut, mempertemukannya dalam sebuah arsitektur konseptual yang utuh.

Dalam perspektif ilmu sistem, hubungan ini dapat dipahami melalui konsep Kernel dan Permukaan (Surface). Banyak sistem kompleks di alam semesta—baik atom, organisme, maupun peradaban—tersusun di sekitar sebuah inti fungsional (kernel) yang dibungkus oleh lapisan luar yang kaya akan ekspresi (surface).

Dalam Codeisme, kedua lapisan tersebut tidak saling mendominasi. Permukaannya mewarisi naluri artistik manusia sejak Maros–Pangkep: sapuan kuas, tekstur, warna, dan emosi yang lahir dari tangan manusia. Sebaliknya, kernelnya mewarisi tradisi Shannon dan Hara: sebuah kode digital yang padat, presisi, dapat dibaca mesin, dan tetap berfungsi sempurna. Fungsi tidak mengorbankan ekspresi, dan ekspresi tidak menghilangkan fungsi. Lukisan tetap menjadi karya seni yang unik, sementara kode tetap dapat dipindai sebagaimana mestinya.

Sintesis ini tampak jelas pada karya potret Bung Karno karya Mr. Doddy. Seorang pendiri bangsa, dalam makna yang sangat nyata, merupakan kernel sejarah sebuah negara—titik asal tempat bertumbuhnya kebudayaan, institusi, dan narasi kolektif suatu bangsa. Dengan melukiskan sebuah kode digital yang sepenuhnya berfungsi ke dalam wajah Sang Proklamator, Mr. Doddy seolah menghadirkan sebuah kernel di dalam kernel: data yang dipadatkan di balik sosok manusia yang dirinya sendiri merupakan titik pemadatan sejarah Indonesia.

Horizon Berikutnya

Apabila seni cadas purba mengeksternalisasi memori manusia, dan kode digital memungkinkan pemadatan serta transmisi informasi, maka kemunculan kecerdasan buatan (AI) tampaknya sedang membuka lapisan sejarah yang ketiga. AI berpotensi mengeksternalisasi proses interpretasi itu sendiri. Lapisan digital yang berada di balik karya-karya Codeisme mungkin tidak lagi berhenti sebagai sekadar tautan statis, tetapi berkembang menjadi dialog yang hidup dan dinamis, sehingga karya seni berubah dari penyimpan makna menjadi mitra aktif dalam membangun makna.

Codeisme bukanlah sekadar tren teknologi ataupun gimik digital sesaat. Ia merupakan kelanjutan logis dari naluri tertua manusia, yang kini ditulis ulang dengan kosakata abad ke-21. Codeisme menjadi salah satu bentuk kontemporer yang paling jelas dalam mempertemukan seni dan sains, menunjukkan bahwa manusia tidak perlu memilih antara ekspresi artistik dan fungsi praktis. Pada titik pertemuan antara sapuan kuas dan kode digital, Codeisme memperlihatkan sebuah ruang tempat memori, transmisi, dan identitas hidup berdampingan secara harmonis.